Saturday, July 14, 2012

Kado Untuk Awal Pertobatanku

Ibaratnya "Clara yang Baru" adalah sebuah buku, then post ini barulah kata pengantar dari proses panjang perubahan itu..


Di post sebelumnya saya sudah bercerita mengenai kegiatan saya ketika saya SMA, salah satunya mengikuti ekskul modern dance. Nah, pelatih saya, yang juga alumnus, bernama Rachel, sering sekali menyebut nama "Wendy" ketika kami sedang latihan. "Iya ini koreo waktu jamannya Wendy" atau "Ini koreonya Wendy". Well, who's Wendy? Yang ada di pikiran gue setiap Rachel menyebut nama "Wendy" adalah seorang pria, alumus Marsud, jago dance, dan galak.

Ya, Rachel dulu suka bercerita mengenai bagaimana dulu sosok alumnus bernama "Wendy" ini ketika menjadi pelatih team dance Marsud yang diketuai oleh Rachel sendiri. Disiplin. Keras. Profesional. "Kita dulu yang butuhin dia banget. Jadi kita ga akan panggil dia buat liat perkembangan kita kalo kita belum ada progress. Kita ga berani. Dia itu sibuk banget. Pernah jadi dancer Agnes Monica. Setelah keluar, dia sekarang punya dance team sendiri buat dikirim perform di acara-acara di stasiun TV. Dancer Profesional. Jadi kalo kita latihan, ada satu anak aja yang salah gaya, udah, dia ga akan berat hati pulang ninggalin kita gitu aja. Malah bagus, dia jadi ga telat ke tempat dia ngajar atau perform berikutnya. Dia juga gamau dipanggil 'kak'". Okay, that sounds creepy. Dan satu lagi, oh ternyata dia perempuan.

Mungkin, itu juga sebabnya Rachel gamau dipanggil "kak" atau "ci", padahal dia udah berkuliah. Tingkat akhir kalau ga salah. Karena begitu aku tamat SMA, dia wisuda. Jauh banget rentan umur kami. 

Setiap hari Minggu ibadah, saya selalu menghadiri ibadah jam 5 sore, di salah satu cabang gereja saya di Sudirman. Cabang inilah yang menjadi pusat kegiatan youth gereja saya. Jadi ibadah yang jam 5 itu adalah ibadah KKR Youth. Seperti biasa, banyak yang melayani. Worship Leader, singers, pemusik, choir, usher, dan... dancer? Wow, ada dancer. And it was not tambourine or worship dance like usually other churches had. It was Hip Hop! "Tuhan, kok ada MD-Hip Hop di gereja? Tuhan, AKU MAU!"

Nah, itulah bidang pelayanan yang pada saat itu aku rindukan dan kebetulan Mama juga nyuruh aku untuk ambil bagian pelayanan di gereja. Tapi, kendalanya adalah.. Siapa link-nya?? Dari mana?? "God, aku ga kenal siapa-siapa di sini. Gereja ini besar, kalau mau masuk pelayanan dancer, pasti harus kenal salah satu dari mereka atau at least salah satu pengerja di sini dulu biar dikenalin ke mereka." Itu asumsiku pertama kali. Stand pendaftaran pelayanan yang ada di pintu masuk gereja juga hanya untuk choir. Bahkan Papa pernah coba iseng nanya di stand choir gimana cara masuk ke dance team dan mereka bilang,"Anak om SMA atau udah kuliah/kerja? Kalau masih SMA di sini aja om, soalnya dance team itu untuk yang kuliah sama yang udah kerja om." Okay, mustahil.

Bener kan, harus kenal orang memang. Haduh, gimana caranya? Tapi imanku ga segitu aja. Aku tetap beriman bahwa Tuhan ga kekurangan jalan untuk bisa masukin aku ke sana.



Suatu kali ketika latihan..
Kami sedang beristirahat sebentar, tiba-tiba randomly Rachel nanya,
"Clar, lu gereja dimana sih?" 
berhubung bukan pertanyaan tentang algoritma, jadi gue jawabnya cepet..
Setelah jawab gereja dimana, Rachel kaget,
"Lah? Ko lu ga pelayanan nari aja di sana?"
"Iya Hel.. Baru mau.. Tapi gue ga kenal siapa-siapa di sana. Gatau mau daftar ke mana..."
Suddenly, mukanya langsung sepet. wkwk
"Yaelaaah, capek deh. Lu kenapa ga bilang sama gue dari dulu?? Itu dance team, yang jadi koreografernya tuh Wendy!"

JEDAAR JEDAARR! Hahaha
Berasa ada sound effects halilintar, badai, tsunami, bahkan kembang api di belakang gue.

"Ooh! Dia koreografernya di situ?"
"Iyaa, dia nari juga kok. Keliatan ga kalo dari kursi jemaat?"
"Yah, gue gatau orangnya yang mana. Tapi dancer sih pasti keliatan mukanya."
"Yaudah gampang, ntar gue bilangin. Sekalian lu gue kenalin."

Jadi Rachel ini, pada waktu itu, juga bekerja sebagai salah satu dancer profesional di bawah naungan dance team yang dibentuk sendiri sama Ka Wendy pada penjelasan gue di atas tadi.


Gue terpana.
Tuhan Yesus sangat baik.
Dan memang ga pernah kehabisan jalan untuk nolong anak-Nya..
Dan satu lagi..


Dunia (sangat) sempit.



Dari situlah awal jalan gue masuk untuk daftar ke pelayanan nari. Bahkan dance ministry team itu, sebelum buka pendaftaran, ngadain workshop. Tadinya gue gatau mau sama siapa dateng ke workshop itu karena gue gak pede. Tapi lagi-lagi Tuhan bantu, randomly Rachel SMS gue ngajak ke workshop itu karena dia juga diajak dan dia minta gue temenin dia. What a co-incidence! God is good!

Setelah workshop diadakan, dibukalah pendaftaran, tentunya gue daftar. Rachel juga ku ajak. Tapi dia menolak dengan salah satu alasannya,"Gue udah punya komitmen melayani di gereja asal gue, Clar. Jadi gue gamau bangun komitmen lagi untuk melayani di gereja lain." Wow.. Cool. So proud of her. Ohya, belom cerita ya? Rachel ini juga anak Tuhan. Cantik, pintar, jago dance. Dia dulu lulusan ilmu komunikasi di kampus kuning dan dengan segala kesibukannya, dia tetep bisa wisuda dengan gelar "Cum-Laude". Yang gue sangat jadikan dia contoh adalah dalam hal berpacaran. Dia luar biasa. Dari SMA sampai dia wisuda dan kerja (mungkin sampai sekarang), belom putus loh. Dan cara pacaran mereka ga kaya anak-anak muda pada umumnya. Awesome.

Hanya dua orang yang selalu memberi gue dukungan ketika gue menjabat menjadi leader-yang sangat masih perlu belajar menjadi leader-yakni Rachel dan Gigi (salah satu anggota team).

Hari audisi + interview ditentukan. Gue dag-dig-dug pagkat dua puluh karena gue takut banget sama audisi karena nanti pasti disuruh free style. UH-OH! Gue tidak pandai menari, sehingga pasti ketakutan kalo disuruh free style. Dan kalo mereka liat gue free style, mungkin mereka bisa demam tiga hari atau mengalami penurunan nafsu makan selama seminggu sehingga butuh asupan temulawak. Haha! Maksud gue, pasti ditolak.

Beberapa jam sebelum audisi, pas lagi otw, saya doa terus tidak berhenti-henti, mohon sama Tuhan untuk have mercy on me buat perkara free style ini. Kompensasi kek gitu Tuhan, atau keringanan apaa gitu. Di satu sisi gue sangat ingin gabung, tapi di sisi lain, kalo udah masalah free style.. hands up banget deh Tuhan, kalo perlu hand stand malah.

Mujizat terjadi. Beberapa jam sebelum audisi itu.. Udah di gereja malah. Dapet SMS. Aku lupa apa isinya tapi line yang aku inget:

"..Bagi yang kemarin sudah ikut workshop, tidak perlu diaudisi lagi, jadi hari ini datang untuk interview saja.."


Luar biasa.  
Aku cuma bisa nangis, seneng banget. Heran, jalannya sangat dipermudah Tuhan untuk gabung ke sini. Mungkin memang kehendak-Nya juga untuk gue join. Yasudah, 12 Mei 2009 itulah, hari dimana gue dinyatakan diterima sebagai anggota dance ministry team di gereja gue.





God's favor DOES last a life time!

Introducing Me, My Past





Hi, it's a verrrrrrrrrrry long time ago since the last post i wrote on this blogger site. 

Well, accidentally i realized that i once had a blog haha. Kok bisa tiba-tiba inget? Jadi beberapa hari lalu (lupa kapan tepatnya), saya iseng ketik "Clara Stephanie" di Google. Bener-bener ga ada kerjaan. Nah, bermuncul deh foto-foto, mulai dari profile Facebook, Twitter, dan... eh, kok ada satu foto itu? Kaya pernah inget, tapi itu profile apa.. Di bawahnya ada keterangan link-nya... "blogger.com". Astaga.. profile blog. Huaaahaha! Rasanya kaya lagi tidur panjang terus dibangunin tiba-tiba. Baru inget pernah nulis blog! Maret, 2009. Cuma ada 2 posts. Dan ketika itu saya masih SMA kelas 2.

Langsung ga sabar untuk buka. Gimana sih, rasanya.. Tiba-tiba ketemu barang 'kenangan' lama gitu, trus rasanya kaya pengen cepet-cepet liat dan siap-siap dikejutkan dengan hal-hal lucu untuk dinostalgiakan. Bener.. fotonya masih jadul gitu. Itu pose ke-gak-banget-an gue waktu SMA, jadi lagi belajar, sok pura-pura candid HAHA makanya matanya ga liat ke kamera hape, liatnya ke bawah (ke arah buku). Aduh geli banget deh ingetnya. Background-nya jadul banget. Warna coklat. Dulu theme blogspot ga sefariatif sekarang.

Dan.. Mulai baca post pertama. Senyum. Ketawa. Senyum. Ketawa. Mengisahkan tentang kegiatan di kelas dan di sekolah dulu. Tapi seiring kata demi kata ya.. (asek) kok sedih ya. Rasanya malu.. Kenapa? Iya, kata-kataku dulu masih kasar... Banyak ku temuin beberapa kata yang.. "Astaga, dulu lo ngomong kaya gitu Clar?" Iya, gitu deh.. 


OKAY! Sebenernya gue mau share tentang kejadian di tahun 2011 lalu, but.. Sebelumnya, gue mau share about me and my past terlebih dahulu. Maksudnya, ga lain dan ga bukan untuk membagikan kisah kebaikan dan kasih Tuhan dalam hidup saya dibalik masa lalu saya..


Nama saya Clara Stephanie Sitanggang. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adikku laki-laki, hanya beda setahun sama saya. Saya lahir hari Selasa, 5 Mei 1992. Lahir di keluarga Kristen yang baik-baik. Ayah dan Ibu bekerja dengan posisi yang bagus di bank. Dengan gelar sarjana ekonomi, lulusan perguruan tinggi negeri, di belakang nama mereka. 

Saya tumbuh dengan keadaan serba-ada. Sampai akhirnya tahun 2006. Seluruh kehidupan saya berputar 180 derajat. Ketika itu saya masih SMP kelas 2. Masih sangat labil. Kalo kata orang, bahasa kerennya, masa remaja mencari jati diri (hahasek). Ayah dan Ibu saya memutuskan untuk meninggalkan dunia sekuler mereka dan mencoba masuk ke dunia pelayanan. Guys...... 
Mereka bukan pendeta tetap di sebuah gereja loh. 
Mereka ga punya gelar teologia sehingga gue merasa aman kalo mereka memutuskan meninggalkan pekerjaan mapan mereka. 
Bahkan ketika gue tanya, "Mau pelayanan bentuk apa?", Mommy dengan tenangnya said, "Don't know. We'll see". 
Jadi?..... Ya gak ada. Hanya modal cinta Tuhan, pikul salib, terjun ke dunia pelayanan yang future-nya gue waktu itu liatnya gelap. Mereka ga punya pegangan sama siapa pun atau berada aman terjamin di bawah lembaga yayasan Kristen mana pun. Nekad aja tuh berdua menjelajahi hutan rimba "pelayanan" hanya bermodalkan love to God.

Alhasil, saya memberontak. Saya sangat tidak setuju dengan keputusan mereka. Sama sekali. Sekolahku dulu termasuk sekolah bonafit. Mau bayar pake apa kalo mereka leave their jobs? Kan gak langsung dapet apa yang mereka maksud dengan "pelayanan" itu, pasti ada masa "nganggur". Masa menunggu mendapat clue dari Tuhan tentang pelayanan apa yang harus mereka tekuni. Tidak hanya itu saja, keadaan di rumah juga kacau. Adikku ikut memberontak. Papa-Mama yang juga ga pernah terbiasa dengan keadaan ini, ga ngerti gimana cara meng-handle adik. Bahkan dia sempet kabur dari rumah dua kali. Rumah jadi gampang ribut. (Sekarang baru ngerti kalo gejolak awal itu memang wajar terjadi buat kita yang mau serius ikut Tuhan dan pikul salib). Well, so i tried to forgot it by doing some ridiculous things at school.

I skipped class (pernah ketauan wakil kepsek dan hampir ga didaftarin UAN), i drank alcohols, i smoked shisha (yang katanya ternyata lebih bahaya dari rokok ya?), i insulted many friends at school  so i could get attention. Even doing some disgusting things like licked a new fresh mint condom in front of the whole classmates while in Biology class and proudly made a gank named "Horniens (dari kata "horny") da Vicious Rebels". Oh gosh, sedih  banget rasanya ngetik kalimat-kalimat barusan.

But that was me. Beranjak SMA, mulai berasa deh akibat dari leave sekuler jobs itu. Mama mulai milih-milih SMA mana yang tidak mahal uang sekolah dan biaya masuknya beserta ongkos-ongkosnya. Bahkan SMP kelas 1 itu adalah saat terakhir dimana kami sekeluarga bisa menikmati liburan di hotel. Ya, terakhir.. Setelah itu ya liburan di rumah aja. Sempet berantem sama Mama karena aku mau lanjutin ke Tarakanita 1 (karena dari TK udah di Tarki). Which is sekolah bonafit, gaul, nun jauh di dunia jakarta bagian selatan sana. Yang kupikirin cuma satu: pergaulan. Dan seragamnya yang gue suka banget (yang jadi kebanggan gue semenjak gue SD: rok kotak-kotak warna item-abu-abu-merah).

Tapi akhirnya ya harus ngalah, rumah jauh, ongkos pasti mahal. Uang masuk dan uang sekolahnya juga mayan lah. Jadi, dengan berat hati gue masuk ke SMA pilihan nyokap. SMA Fons Vitae 1 Marsudirini. Yah, at least i was not alone, dari SMP gue banyak juga temen-temen main gue yang masuk di situ. Persiapan mau test-nya lebay. Nyokap suruh gue kerjain latihan soal untuk masuk SMA Penabur 7 versi tahun sebelum gue. Dulu gue mikir "Astaga, Ma? Apaan sih, masuk sekolah kayak begitu aja musti latihan soal segala. Soal Penabur lagi". Bener-bener ga masuk logika gue waktu itu. Dan gue jalaninnya dengan bersungut-sungut. 

Bener aja, pas tes, gue sebisa mungkin gue asal-asalin dan gue salah-salahin jawabannya. Yang gue seneng, soal latihan versi Penabur itu gaada yang keluar! Karena banyakan ambil dari pelajaran kelas 1 dan 3 SMP, sedangkan soal masuk Marsud banyakan ambil dari pelajaran kelas 2 SMP. Nice.. Gue udah senyum-senyum aja pas ngerjain. Karena feeling gue, ga bakalan diterima.

Sialnya (pada waktu itu gue mikirnya ini sebuah kesialan), gue diterima. Dan lebih zonk-nya lagi........................ gue masuk kelas unggulan. Shocked. Stress selama 3 bulan pertama. Itulah awal gue menderita darah rendah. Sehingga dianjurkan untuk makan sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa sakit yang luar biasa di tengkuk leher setiap kali penyakit itu kumat. Awal kegemukan gue juga kali :p hahaha alibi. 

Di awal SMA, gue sempet menjadi anak yang tertutup. Maunya main sama temen-temen SMP  gue aja, kenapa? Karena gue tidak menerima keberadaan gue di sekolah itu. Gue pun berasa ga level (ya, dulu gue sombong) main sama anak-anak selain SMP gue karena gue merasa SMP lain yang masuk situ kurang bonafit. Khususnya anak kelas gue dulu yang mukanya pinter-pinter banget, dimana dulu gue menganggap mereka freak, sehingga baru di Semester 2 gue hapal nama-nama anak sekelas gue. Jahat banget memang..

Tapi tetep loh gue berasa Tuhan baik sama gue. Gue naik kelas dengan nilai yang sangat memuaskan. Gue bisa milih IPA atau pun IPS. Baru sekali itu lihat orang tua bangga. Memang, Tuhan punya maksud masukin gue di kelas unggulan. Kenapa? Awalnya dulu gue kira Tuhan udah jahat sama gue, bikin orang tua gue ninggalin kerjaan mereka sehingga hidup gue pas-pasan. Trus bikin gue sial masuk SMA yang ga bonafit dan plus ngerjain gue dengan masukin gue ke kelas unggulan. So childish wasn't i? Tapi ternyata gue  baru ngerti. Maksud-Nya masukin gue ke kelas unggulan adalah biar gue belajar.  Biar kebiasaan main-main gue berubah. Menurut-Nya udah bukan waktunya lagi gue leha-leha dengan fasilitas yang dulu biasa gue nikmatin. Udah waktunya gue yang jadi harapan orang tua karena adik gue juga sedang berada dalam masa memberontaknya (yang efeknya jauh lebih parah dari gue). Sehingga Tuhan memroses gue, anak pertama, terlebih dahulu supaya orang tua gue ga mengalami luka yang begitu lama.

Lingkungan memang mempengaruhi. Karena lingkungan gue setiap harinya belajar jadinya gue keikut dan beban "kelas unggulan" itu yang bikin gue berasa bakal malu banget kalo gue tinggal kelas. Gue kemudian dengan bangganya memilih IPS. Kenapa? Kebanyakan anak kelas gue milih IPA. Too mainstream kalo kata 9gag hahaha. No, gue dan lima orang teman gue punya misi. Yakni membuktikan bahwa anak-anak yang masuk IPS gak selamanya karena hanya bisa masuk IPS aja atau karena yaaa sebenernya gabisa masuk mana-mana tapi karena jurusannya cuma ada dua, "lempar" ke IPS aja. Jadi, kami masuk IPS karena keputusan kami. Keputusan terhadap pilihan itu kan berarti berawal dari adanya lebih dari satu option which are IPA dan IPS. Dan kami memilih IPS. Jadi bahasanya "Kami masuk IPS" bukan "Kami dimasukin ke IPS".

Di kelas 2, pergaulanku mulai luas. Saya mulai memasuki kelompok yang yaah, lebih ekslusif dalam berteman. Meskipun kami menolak disebut geng but yes, secara de facto, we ARE geng (karena masih sampai sekarang). Dan ga cuma kami, ya biasalah.. SMA. Banyak kelompok-kelompok sejenis yang mengekslusifkan diri, memberi nama pada kelompoknya, dan selalu berkumpul dengan anggota-anggotanya yang itu-itu saja. Itulah serunya IPS. Karena yaa.., kelasnya lebih banyak dibanding IPA hahaha. Dan ya, masih dengan melakukan kenakalan kaya skipped class ke Taman Lembang (atau pernah ke Bogor? lupa) dan premiere nyoba rokok di rumah temen.. Mayan, 5 batang untuk first time. Sedih banget ingetnya..

Aku mulai aktif kegiatan ekstrakulikuler. Biasa, perempuan, modern dance. SMA banget. Dan mujizatnya adalah aku anak baru, meskipun sudah kelas 2 tapi hitungannya kan anak baru karena baru masuk. Saya dipercayakan menjadi the next captain for the team (berdasarkan voting yang dihadiri anggota team termasuk pengurus lama dan pelatih), setelah captain yang senior kelas 3, demisioner. Kaget dan ga enak rasanya karena saya "melangkahi" temen satu angkatan saya yang udah dari kelas 1 masuk tim. (karena memang harusnya posisi kandidat calon captain itu diisi sama mereka semua). Honestly, mereka secara teknik lebih jago. But i didn't know why. But now i know.. it was FAVOR :)

Dan aku bukanlah.. voila! The perfect captain. Banyak banget kekurangan saya pada waktu itu dan mungkin sempat mengecewakan beberapa anggota team, salah, mungkin semua. Termasuk co-captain saya. Dulu sempet kami ada masalah, memang tidak kami akui secara real apa masalahnya, tapi "dingin" itu ada. Saya ga tau apa penyebabnya, karena secara pergaulan di sekolah geng saya dan geng dia.. biasa.. saling ga suka. Mungkin itu juga yang mempengaruhi. Atau dia  memang tidak suka dengan cara memimpin saya yang mungkin ga banget.. ya, bisa saja. Karena dulu tingkah dan sikapku sangat ga banget untuk menjadi seorang leader. 

Tapi dengan kesibukan kegiatan di luar pelajaran, aku tetep bertanggung jawab dengan nilaiku. Dulu saya janji sama Mama saya (supaya dibeliin anjing) kalau masuk IPS minimal ranking 5 besar. Puji Tuhan, Semester 1 saya ranking 2 dan di Semester 2, turun sih.. ranking 3 hehe. Mom and Dad were so proud of me. Rangking..? Sesuatu yang dari SD ga pernah ku terima karena kebanyakan main dan karena ga pernah ngerti apa arti "tanggung jawab sebagai seorang murid dan anak".

Tuhan Yesus, yang sangat baik itu, secara tidak berasa, membimbing saya dari saya SD. Melalui kejadian-kejadian yang saya baru sadar sekarang kalo itu favor. Bahkan di saat gue menjadi anak-Nya yang hilang. Prosesnya dahsyat, tak dapat dimengerti awalnya, tapi indah pada akhirnya. Masa "semau gue"-pun berakhir di 12 Mei 2009 dimana pada tanggal itu, 7 hari setelah genap usia 17 tahun,  gue  kelas 2 SMA Semester 2, Tuhan mengabulkan doaku dan menjawabnya sebagai hadiah ulang tahunku yaitu: diterima bergabung di pelayanan nari. Sebuah dance ministry team di sebuah gereja dimana aku berjemaat sekarang. Bukan perubahan instant, tapi dari situlah awal saya ditangkap dan saya ga akan mau lepas lagi dari kasih-Nya yang mengubahkan seluruh kepribadian saya 180 derajat.

To be continued..


God bless you.