Saturday, July 14, 2012

Introducing Me, My Past





Hi, it's a verrrrrrrrrrry long time ago since the last post i wrote on this blogger site. 

Well, accidentally i realized that i once had a blog haha. Kok bisa tiba-tiba inget? Jadi beberapa hari lalu (lupa kapan tepatnya), saya iseng ketik "Clara Stephanie" di Google. Bener-bener ga ada kerjaan. Nah, bermuncul deh foto-foto, mulai dari profile Facebook, Twitter, dan... eh, kok ada satu foto itu? Kaya pernah inget, tapi itu profile apa.. Di bawahnya ada keterangan link-nya... "blogger.com". Astaga.. profile blog. Huaaahaha! Rasanya kaya lagi tidur panjang terus dibangunin tiba-tiba. Baru inget pernah nulis blog! Maret, 2009. Cuma ada 2 posts. Dan ketika itu saya masih SMA kelas 2.

Langsung ga sabar untuk buka. Gimana sih, rasanya.. Tiba-tiba ketemu barang 'kenangan' lama gitu, trus rasanya kaya pengen cepet-cepet liat dan siap-siap dikejutkan dengan hal-hal lucu untuk dinostalgiakan. Bener.. fotonya masih jadul gitu. Itu pose ke-gak-banget-an gue waktu SMA, jadi lagi belajar, sok pura-pura candid HAHA makanya matanya ga liat ke kamera hape, liatnya ke bawah (ke arah buku). Aduh geli banget deh ingetnya. Background-nya jadul banget. Warna coklat. Dulu theme blogspot ga sefariatif sekarang.

Dan.. Mulai baca post pertama. Senyum. Ketawa. Senyum. Ketawa. Mengisahkan tentang kegiatan di kelas dan di sekolah dulu. Tapi seiring kata demi kata ya.. (asek) kok sedih ya. Rasanya malu.. Kenapa? Iya, kata-kataku dulu masih kasar... Banyak ku temuin beberapa kata yang.. "Astaga, dulu lo ngomong kaya gitu Clar?" Iya, gitu deh.. 


OKAY! Sebenernya gue mau share tentang kejadian di tahun 2011 lalu, but.. Sebelumnya, gue mau share about me and my past terlebih dahulu. Maksudnya, ga lain dan ga bukan untuk membagikan kisah kebaikan dan kasih Tuhan dalam hidup saya dibalik masa lalu saya..


Nama saya Clara Stephanie Sitanggang. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adikku laki-laki, hanya beda setahun sama saya. Saya lahir hari Selasa, 5 Mei 1992. Lahir di keluarga Kristen yang baik-baik. Ayah dan Ibu bekerja dengan posisi yang bagus di bank. Dengan gelar sarjana ekonomi, lulusan perguruan tinggi negeri, di belakang nama mereka. 

Saya tumbuh dengan keadaan serba-ada. Sampai akhirnya tahun 2006. Seluruh kehidupan saya berputar 180 derajat. Ketika itu saya masih SMP kelas 2. Masih sangat labil. Kalo kata orang, bahasa kerennya, masa remaja mencari jati diri (hahasek). Ayah dan Ibu saya memutuskan untuk meninggalkan dunia sekuler mereka dan mencoba masuk ke dunia pelayanan. Guys...... 
Mereka bukan pendeta tetap di sebuah gereja loh. 
Mereka ga punya gelar teologia sehingga gue merasa aman kalo mereka memutuskan meninggalkan pekerjaan mapan mereka. 
Bahkan ketika gue tanya, "Mau pelayanan bentuk apa?", Mommy dengan tenangnya said, "Don't know. We'll see". 
Jadi?..... Ya gak ada. Hanya modal cinta Tuhan, pikul salib, terjun ke dunia pelayanan yang future-nya gue waktu itu liatnya gelap. Mereka ga punya pegangan sama siapa pun atau berada aman terjamin di bawah lembaga yayasan Kristen mana pun. Nekad aja tuh berdua menjelajahi hutan rimba "pelayanan" hanya bermodalkan love to God.

Alhasil, saya memberontak. Saya sangat tidak setuju dengan keputusan mereka. Sama sekali. Sekolahku dulu termasuk sekolah bonafit. Mau bayar pake apa kalo mereka leave their jobs? Kan gak langsung dapet apa yang mereka maksud dengan "pelayanan" itu, pasti ada masa "nganggur". Masa menunggu mendapat clue dari Tuhan tentang pelayanan apa yang harus mereka tekuni. Tidak hanya itu saja, keadaan di rumah juga kacau. Adikku ikut memberontak. Papa-Mama yang juga ga pernah terbiasa dengan keadaan ini, ga ngerti gimana cara meng-handle adik. Bahkan dia sempet kabur dari rumah dua kali. Rumah jadi gampang ribut. (Sekarang baru ngerti kalo gejolak awal itu memang wajar terjadi buat kita yang mau serius ikut Tuhan dan pikul salib). Well, so i tried to forgot it by doing some ridiculous things at school.

I skipped class (pernah ketauan wakil kepsek dan hampir ga didaftarin UAN), i drank alcohols, i smoked shisha (yang katanya ternyata lebih bahaya dari rokok ya?), i insulted many friends at school  so i could get attention. Even doing some disgusting things like licked a new fresh mint condom in front of the whole classmates while in Biology class and proudly made a gank named "Horniens (dari kata "horny") da Vicious Rebels". Oh gosh, sedih  banget rasanya ngetik kalimat-kalimat barusan.

But that was me. Beranjak SMA, mulai berasa deh akibat dari leave sekuler jobs itu. Mama mulai milih-milih SMA mana yang tidak mahal uang sekolah dan biaya masuknya beserta ongkos-ongkosnya. Bahkan SMP kelas 1 itu adalah saat terakhir dimana kami sekeluarga bisa menikmati liburan di hotel. Ya, terakhir.. Setelah itu ya liburan di rumah aja. Sempet berantem sama Mama karena aku mau lanjutin ke Tarakanita 1 (karena dari TK udah di Tarki). Which is sekolah bonafit, gaul, nun jauh di dunia jakarta bagian selatan sana. Yang kupikirin cuma satu: pergaulan. Dan seragamnya yang gue suka banget (yang jadi kebanggan gue semenjak gue SD: rok kotak-kotak warna item-abu-abu-merah).

Tapi akhirnya ya harus ngalah, rumah jauh, ongkos pasti mahal. Uang masuk dan uang sekolahnya juga mayan lah. Jadi, dengan berat hati gue masuk ke SMA pilihan nyokap. SMA Fons Vitae 1 Marsudirini. Yah, at least i was not alone, dari SMP gue banyak juga temen-temen main gue yang masuk di situ. Persiapan mau test-nya lebay. Nyokap suruh gue kerjain latihan soal untuk masuk SMA Penabur 7 versi tahun sebelum gue. Dulu gue mikir "Astaga, Ma? Apaan sih, masuk sekolah kayak begitu aja musti latihan soal segala. Soal Penabur lagi". Bener-bener ga masuk logika gue waktu itu. Dan gue jalaninnya dengan bersungut-sungut. 

Bener aja, pas tes, gue sebisa mungkin gue asal-asalin dan gue salah-salahin jawabannya. Yang gue seneng, soal latihan versi Penabur itu gaada yang keluar! Karena banyakan ambil dari pelajaran kelas 1 dan 3 SMP, sedangkan soal masuk Marsud banyakan ambil dari pelajaran kelas 2 SMP. Nice.. Gue udah senyum-senyum aja pas ngerjain. Karena feeling gue, ga bakalan diterima.

Sialnya (pada waktu itu gue mikirnya ini sebuah kesialan), gue diterima. Dan lebih zonk-nya lagi........................ gue masuk kelas unggulan. Shocked. Stress selama 3 bulan pertama. Itulah awal gue menderita darah rendah. Sehingga dianjurkan untuk makan sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa sakit yang luar biasa di tengkuk leher setiap kali penyakit itu kumat. Awal kegemukan gue juga kali :p hahaha alibi. 

Di awal SMA, gue sempet menjadi anak yang tertutup. Maunya main sama temen-temen SMP  gue aja, kenapa? Karena gue tidak menerima keberadaan gue di sekolah itu. Gue pun berasa ga level (ya, dulu gue sombong) main sama anak-anak selain SMP gue karena gue merasa SMP lain yang masuk situ kurang bonafit. Khususnya anak kelas gue dulu yang mukanya pinter-pinter banget, dimana dulu gue menganggap mereka freak, sehingga baru di Semester 2 gue hapal nama-nama anak sekelas gue. Jahat banget memang..

Tapi tetep loh gue berasa Tuhan baik sama gue. Gue naik kelas dengan nilai yang sangat memuaskan. Gue bisa milih IPA atau pun IPS. Baru sekali itu lihat orang tua bangga. Memang, Tuhan punya maksud masukin gue di kelas unggulan. Kenapa? Awalnya dulu gue kira Tuhan udah jahat sama gue, bikin orang tua gue ninggalin kerjaan mereka sehingga hidup gue pas-pasan. Trus bikin gue sial masuk SMA yang ga bonafit dan plus ngerjain gue dengan masukin gue ke kelas unggulan. So childish wasn't i? Tapi ternyata gue  baru ngerti. Maksud-Nya masukin gue ke kelas unggulan adalah biar gue belajar.  Biar kebiasaan main-main gue berubah. Menurut-Nya udah bukan waktunya lagi gue leha-leha dengan fasilitas yang dulu biasa gue nikmatin. Udah waktunya gue yang jadi harapan orang tua karena adik gue juga sedang berada dalam masa memberontaknya (yang efeknya jauh lebih parah dari gue). Sehingga Tuhan memroses gue, anak pertama, terlebih dahulu supaya orang tua gue ga mengalami luka yang begitu lama.

Lingkungan memang mempengaruhi. Karena lingkungan gue setiap harinya belajar jadinya gue keikut dan beban "kelas unggulan" itu yang bikin gue berasa bakal malu banget kalo gue tinggal kelas. Gue kemudian dengan bangganya memilih IPS. Kenapa? Kebanyakan anak kelas gue milih IPA. Too mainstream kalo kata 9gag hahaha. No, gue dan lima orang teman gue punya misi. Yakni membuktikan bahwa anak-anak yang masuk IPS gak selamanya karena hanya bisa masuk IPS aja atau karena yaaa sebenernya gabisa masuk mana-mana tapi karena jurusannya cuma ada dua, "lempar" ke IPS aja. Jadi, kami masuk IPS karena keputusan kami. Keputusan terhadap pilihan itu kan berarti berawal dari adanya lebih dari satu option which are IPA dan IPS. Dan kami memilih IPS. Jadi bahasanya "Kami masuk IPS" bukan "Kami dimasukin ke IPS".

Di kelas 2, pergaulanku mulai luas. Saya mulai memasuki kelompok yang yaah, lebih ekslusif dalam berteman. Meskipun kami menolak disebut geng but yes, secara de facto, we ARE geng (karena masih sampai sekarang). Dan ga cuma kami, ya biasalah.. SMA. Banyak kelompok-kelompok sejenis yang mengekslusifkan diri, memberi nama pada kelompoknya, dan selalu berkumpul dengan anggota-anggotanya yang itu-itu saja. Itulah serunya IPS. Karena yaa.., kelasnya lebih banyak dibanding IPA hahaha. Dan ya, masih dengan melakukan kenakalan kaya skipped class ke Taman Lembang (atau pernah ke Bogor? lupa) dan premiere nyoba rokok di rumah temen.. Mayan, 5 batang untuk first time. Sedih banget ingetnya..

Aku mulai aktif kegiatan ekstrakulikuler. Biasa, perempuan, modern dance. SMA banget. Dan mujizatnya adalah aku anak baru, meskipun sudah kelas 2 tapi hitungannya kan anak baru karena baru masuk. Saya dipercayakan menjadi the next captain for the team (berdasarkan voting yang dihadiri anggota team termasuk pengurus lama dan pelatih), setelah captain yang senior kelas 3, demisioner. Kaget dan ga enak rasanya karena saya "melangkahi" temen satu angkatan saya yang udah dari kelas 1 masuk tim. (karena memang harusnya posisi kandidat calon captain itu diisi sama mereka semua). Honestly, mereka secara teknik lebih jago. But i didn't know why. But now i know.. it was FAVOR :)

Dan aku bukanlah.. voila! The perfect captain. Banyak banget kekurangan saya pada waktu itu dan mungkin sempat mengecewakan beberapa anggota team, salah, mungkin semua. Termasuk co-captain saya. Dulu sempet kami ada masalah, memang tidak kami akui secara real apa masalahnya, tapi "dingin" itu ada. Saya ga tau apa penyebabnya, karena secara pergaulan di sekolah geng saya dan geng dia.. biasa.. saling ga suka. Mungkin itu juga yang mempengaruhi. Atau dia  memang tidak suka dengan cara memimpin saya yang mungkin ga banget.. ya, bisa saja. Karena dulu tingkah dan sikapku sangat ga banget untuk menjadi seorang leader. 

Tapi dengan kesibukan kegiatan di luar pelajaran, aku tetep bertanggung jawab dengan nilaiku. Dulu saya janji sama Mama saya (supaya dibeliin anjing) kalau masuk IPS minimal ranking 5 besar. Puji Tuhan, Semester 1 saya ranking 2 dan di Semester 2, turun sih.. ranking 3 hehe. Mom and Dad were so proud of me. Rangking..? Sesuatu yang dari SD ga pernah ku terima karena kebanyakan main dan karena ga pernah ngerti apa arti "tanggung jawab sebagai seorang murid dan anak".

Tuhan Yesus, yang sangat baik itu, secara tidak berasa, membimbing saya dari saya SD. Melalui kejadian-kejadian yang saya baru sadar sekarang kalo itu favor. Bahkan di saat gue menjadi anak-Nya yang hilang. Prosesnya dahsyat, tak dapat dimengerti awalnya, tapi indah pada akhirnya. Masa "semau gue"-pun berakhir di 12 Mei 2009 dimana pada tanggal itu, 7 hari setelah genap usia 17 tahun,  gue  kelas 2 SMA Semester 2, Tuhan mengabulkan doaku dan menjawabnya sebagai hadiah ulang tahunku yaitu: diterima bergabung di pelayanan nari. Sebuah dance ministry team di sebuah gereja dimana aku berjemaat sekarang. Bukan perubahan instant, tapi dari situlah awal saya ditangkap dan saya ga akan mau lepas lagi dari kasih-Nya yang mengubahkan seluruh kepribadian saya 180 derajat.

To be continued..


God bless you.








No comments:

Post a Comment