Ibaratnya "Clara yang Baru" adalah sebuah buku, then post ini barulah kata pengantar dari proses panjang perubahan itu..
Di post sebelumnya saya sudah bercerita mengenai kegiatan saya ketika saya SMA, salah satunya mengikuti ekskul modern dance. Nah, pelatih saya, yang juga alumnus, bernama Rachel, sering sekali menyebut nama "Wendy" ketika kami sedang latihan. "Iya ini koreo waktu jamannya Wendy" atau "Ini koreonya Wendy". Well, who's Wendy? Yang ada di pikiran gue setiap Rachel menyebut nama "Wendy" adalah seorang pria, alumus Marsud, jago dance, dan galak.
Ya, Rachel dulu suka bercerita mengenai bagaimana dulu sosok alumnus bernama "Wendy" ini ketika menjadi pelatih team dance Marsud yang diketuai oleh Rachel sendiri. Disiplin. Keras. Profesional. "Kita dulu yang butuhin dia banget. Jadi kita ga akan panggil dia buat liat perkembangan kita kalo kita belum ada progress. Kita ga berani. Dia itu sibuk banget. Pernah jadi dancer Agnes Monica. Setelah keluar, dia sekarang punya dance team sendiri buat dikirim perform di acara-acara di stasiun TV. Dancer Profesional. Jadi kalo kita latihan, ada satu anak aja yang salah gaya, udah, dia ga akan berat hati pulang ninggalin kita gitu aja. Malah bagus, dia jadi ga telat ke tempat dia ngajar atau perform berikutnya. Dia juga gamau dipanggil 'kak'". Okay, that sounds creepy. Dan satu lagi, oh ternyata dia perempuan.
Mungkin, itu juga sebabnya Rachel gamau dipanggil "kak" atau "ci", padahal dia udah berkuliah. Tingkat akhir kalau ga salah. Karena begitu aku tamat SMA, dia wisuda. Jauh banget rentan umur kami.
Setiap hari Minggu ibadah, saya selalu menghadiri ibadah jam 5 sore, di salah satu cabang gereja saya di Sudirman. Cabang inilah yang menjadi pusat kegiatan youth gereja saya. Jadi ibadah yang jam 5 itu adalah ibadah KKR Youth. Seperti biasa, banyak yang melayani. Worship Leader, singers, pemusik, choir, usher, dan... dancer? Wow, ada dancer. And it was not tambourine or worship dance like usually other churches had. It was Hip Hop! "Tuhan, kok ada MD-Hip Hop di gereja? Tuhan, AKU MAU!"
Nah, itulah bidang pelayanan yang pada saat itu aku rindukan dan kebetulan Mama juga nyuruh aku untuk ambil bagian pelayanan di gereja. Tapi, kendalanya adalah.. Siapa link-nya?? Dari mana?? "God, aku ga kenal siapa-siapa di sini. Gereja ini besar, kalau mau masuk pelayanan dancer, pasti harus kenal salah satu dari mereka atau at least salah satu pengerja di sini dulu biar dikenalin ke mereka." Itu asumsiku pertama kali. Stand pendaftaran pelayanan yang ada di pintu masuk gereja juga hanya untuk choir. Bahkan Papa pernah coba iseng nanya di stand choir gimana cara masuk ke dance team dan mereka bilang,"Anak om SMA atau udah kuliah/kerja? Kalau masih SMA di sini aja om, soalnya dance team itu untuk yang kuliah sama yang udah kerja om." Okay, mustahil.
Bener kan, harus kenal orang memang. Haduh, gimana caranya? Tapi imanku ga segitu aja. Aku tetap beriman bahwa Tuhan ga kekurangan jalan untuk bisa masukin aku ke sana.
Suatu kali ketika latihan..
Kami sedang beristirahat sebentar, tiba-tiba randomly Rachel nanya,
"Clar, lu gereja dimana sih?"
berhubung bukan pertanyaan tentang algoritma, jadi gue jawabnya cepet..
Setelah jawab gereja dimana, Rachel kaget,
"Lah? Ko lu ga pelayanan nari aja di sana?"
"Iya Hel.. Baru mau.. Tapi gue ga kenal siapa-siapa di sana. Gatau mau daftar ke mana..."
Suddenly, mukanya langsung sepet. wkwk
"Yaelaaah, capek deh. Lu kenapa ga bilang sama gue dari dulu?? Itu dance team, yang jadi koreografernya tuh Wendy!"
JEDAAR JEDAARR! Hahaha
Berasa ada sound effects halilintar, badai, tsunami, bahkan kembang api di belakang gue.
"Ooh! Dia koreografernya di situ?"
"Iyaa, dia nari juga kok. Keliatan ga kalo dari kursi jemaat?"
"Yah, gue gatau orangnya yang mana. Tapi dancer sih pasti keliatan mukanya."
"Yaudah gampang, ntar gue bilangin. Sekalian lu gue kenalin."
Jadi Rachel ini, pada waktu itu, juga bekerja sebagai salah satu dancer profesional di bawah naungan dance team yang dibentuk sendiri sama Ka Wendy pada penjelasan gue di atas tadi.
Gue terpana.
Tuhan Yesus sangat baik.
Dan memang ga pernah kehabisan jalan untuk nolong anak-Nya..
Dan satu lagi..
Dunia (sangat) sempit.
Dari situlah awal jalan gue masuk untuk daftar ke pelayanan nari. Bahkan dance ministry team itu, sebelum buka pendaftaran, ngadain workshop. Tadinya gue gatau mau sama siapa dateng ke workshop itu karena gue gak pede. Tapi lagi-lagi Tuhan bantu, randomly Rachel SMS gue ngajak ke workshop itu karena dia juga diajak dan dia minta gue temenin dia. What a co-incidence! God is good!
Setelah workshop diadakan, dibukalah pendaftaran, tentunya gue daftar. Rachel juga ku ajak. Tapi dia menolak dengan salah satu alasannya,"Gue udah punya komitmen melayani di gereja asal gue, Clar. Jadi gue gamau bangun komitmen lagi untuk melayani di gereja lain." Wow.. Cool. So proud of her. Ohya, belom cerita ya? Rachel ini juga anak Tuhan. Cantik, pintar, jago dance. Dia dulu lulusan ilmu komunikasi di kampus kuning dan dengan segala kesibukannya, dia tetep bisa wisuda dengan gelar "Cum-Laude". Yang gue sangat jadikan dia contoh adalah dalam hal berpacaran. Dia luar biasa. Dari SMA sampai dia wisuda dan kerja (mungkin sampai sekarang), belom putus loh. Dan cara pacaran mereka ga kaya anak-anak muda pada umumnya. Awesome.
Hanya dua orang yang selalu memberi gue dukungan ketika gue menjabat menjadi leader-yang sangat masih perlu belajar menjadi leader-yakni Rachel dan Gigi (salah satu anggota team).
Hari audisi + interview ditentukan. Gue dag-dig-dug pagkat dua puluh karena gue takut banget sama audisi karena nanti pasti disuruh free style. UH-OH! Gue tidak pandai menari, sehingga pasti ketakutan kalo disuruh free style. Dan kalo mereka liat gue free style, mungkin mereka bisa demam tiga hari atau mengalami penurunan nafsu makan selama seminggu sehingga butuh asupan temulawak. Haha! Maksud gue, pasti ditolak.
Beberapa jam sebelum audisi, pas lagi otw, saya doa terus tidak berhenti-henti, mohon sama Tuhan untuk have mercy on me buat perkara free style ini. Kompensasi kek gitu Tuhan, atau keringanan apaa gitu. Di satu sisi gue sangat ingin gabung, tapi di sisi lain, kalo udah masalah free style.. hands up banget deh Tuhan, kalo perlu hand stand malah.
Mujizat terjadi. Beberapa jam sebelum audisi itu.. Udah di gereja malah. Dapet SMS. Aku lupa apa isinya tapi line yang aku inget:
"..Bagi yang kemarin sudah ikut workshop, tidak perlu diaudisi lagi, jadi hari ini datang untuk interview saja.."
Luar biasa.
Aku cuma bisa nangis, seneng banget. Heran, jalannya sangat dipermudah Tuhan untuk gabung ke sini. Mungkin memang kehendak-Nya juga untuk gue join. Yasudah, 12 Mei 2009 itulah, hari dimana gue dinyatakan diterima sebagai anggota dance ministry team di gereja gue.
God's favor DOES last a life time!